Tips Melamar Kerja untuk Desainer UX

Beberapa bulan terakhir, banyak terjadi layoff di berbagai perusahaan, mayoritas disebabkan oleh pandemi COVID-19, akibat perusahaan tidak mampu lagi memprediksi bagaimana mereka akan tetap bertahan atau memperoleh keuntungan di kuartal-kuartal berikutnya.

Apapun sebabnya, dan apapun niatnya, layoff tetaplah jadi momok buruk buat pegawai. Perusahaan bisa saja memberikan pesangon atau mengeksekusinya dengan cara seelegan apapun, tetapi pada akhirnya sama saja: banyak yang kehilangan pekerjaan.

Desainer UX tidak terkecuali terdampak dalam hal ini. Seketika, mereka harus cari pekerjaan baru secepat mungkin, untuk menyambung hidup. Ada yang lebih santai, mungkin punya tabungan cukup atau tidak ada tanggungan. Tetapi pada akhirnya, suatu saat, mereka sebagian besar akan kembali melamar pekerjaan.

Saya sendiri pernah terdampak layoff. Selama 2 bulan, saya menjadikan job hunting sebagai pekerjaan utama. Seingat saya, saya ngobrol dengan 5–7 perusahaan dalam 2 bulan. Dari semua itu, saya akhirnya mendapatkan tawaran pekerjaan dari 1 perusahaan. Sulit, tapi bisa!

Dari pengalaman inilah, saya ingin berbagi kepada sesama desainer UX, bagaimana melamar pekerjaan, terutama jika kita ingin mempersingkat waktu dan mendapatkan kesempatan berikutnya, apalagi di situasi krisis seperti sekarang.

Perlu dipahami juga, ini berdasarkan pengalaman saya pribadi, banyak faktor bisa menentukan, tetapi saya yakin, ada beberapa tips yang relevan bagi kita semua.

Semoga berguna ya.

1. Pahami lingkup pekerjaanmu

Judul pekerjaan kita bisa sama, “Desainer UX” atau “Desainer Produk”, tapi di dalam setiap diri desainer, pasti ada fokus atau areanya, walau tidak akan pernah hanya satu sisi. Beberapa desainer juga cenderung generalis. Tidak ada yang salah, yang penting kita memahami minat kita ke mana.

Setiap produk pasti dimulai dengan mengerti tentang penggunanya. Nah, dalam hal ini, kamu adalah salah satu stakeholder-nya!

  • Apakah kita lebih berpengalaman dan berminat di desain visual/user interface design?
  • Apakah kita lebih generalis, ingin merencanakan segalanya dari ujung ke ujung (end-to-end)?
  • Apakah kamu adalah Manajer Desain atau Design Lead, dan senang mengoptimalisasi proses desain dalam organisasimu?
  • …dan lain sebagainya — ada banyak lingkup lain seperti service design, growth design dan terminologi lain yang saya sendiri belum mengerti sepenuhnya.

Pahami pekerjaanmu, dan keinginanmu, lalu mulai merepresentasikan dirimu. Personal branding, kata orang-orang, itu penting, tapi saya sarankan jangan muluk-muluk — just be humble…

2. Pahami perusahaan tujuanmu melamar

Stakeholder kedua adalah perusahaan yang kamu lamar. Ya! Usahakan jangan mengirim portfolio atau CV yang plek sama untuk setiap perusahaan, kecuali kamu yakin mereka bisa menerimanya.

  • Pelajari bisnis, produk atau industri-nya. Jika seperti saya, kamu lebih banyak di e-commerce, lalu tiba-tiba terjun ke non-profit, butuh lebih banyak usaha untuk meyakinkan organisasi yang kamu lamar.
  • Pelajari kultur-nya. Ini hal yang sulit karena kita belum bekerja di perusahaan itu, tapi biasanya saya bisa nilai sedikit dari seberapa responsif dan engaging-kah hiring manager atau tim HRD-nya. Jika kamu bisa mendekati hiring manager dengan lancar, kemungkinan besar perusahaan itu bagus dan pantas “dikejar”.
  • Pelajari tim-nya. Apakah desain menjadi elemen penting yang mendorong perubahan berarti? Apakah tim desain di bawah payung tersendiri, atau di bawah tim engineering? Tentu tidak ada jawaban yang mutlak benar, tinggal preferensi pribadi dirimu saja.

3. Siapkan portfolio-mu

Bagaimana mempersiapkan portfolio yang baik? Ada banyak tips, saya mungkin tak akan berbagi banyak karena bisa kita Google sendiri. Setiap desainer beda. Tapi menurut saya, portfolio yang baik adalah:

  • Portfolio yang bercerita. Tentu saja visual itu penting, tetapi lebih penting adalah ceritanya. Redaksinya bisa beda-beda, tapi paling tidak strukturnya mesti mengandung konsep yang saya suka sebut sebagai STAR = Situation, Task, Action, Result. Situasi/masalahnya apa, rencana/tugasnya apa, eksekusinya apa, dan hasilnya apa. Kadang saya tambahkan tantangannya apa, lalu apa yang saja pelajari.
  • Portfolio dengan visual yang kuat dan kontekstual. Kadang saya bertanya, seberapa banyak desain visual yang perlu disertakan, dan bagaimana kualitasnya? Tentu desain visual penting, tapi tidak perlu semua disertakan. Ikuti cerita, dan masukkan visual yang relevan. Biasanya, ada hero image yang menjadi anchor, lalu sertakan proses di antaranya sampai hasil dan detil-detil lain. Visual di sini termasuk juga prototipe, bisa juga sertakan link atau video jika memang itu perlu.
  • Portfolio yang menonjolkan proses. Tidak perlu banyak foto post-it. Cukup sajikan beberapa eksplorasi dalam bentuk wireframe atau desain visual, dalam urutan tertentu, sehingga tidak “ujug-ujug” muncul hasil tertentu pula. Tunjukkan alternatif, eskplorasi, iteration, apapun.
  • Portfolio yang secukupnya. Seberapa banyak portfolio yang disertakan? Menurut saya, yang pernah membuat kesalahan mempresentasikan 10 karya dalam satu sesi 1 jam—dan gagal total—lebih baik kita menyajikan 1–3 studi kasus yang dipoles sesuai perusahaan yang kita tuju. Misalnya, dalam kasus saya melamar ke sebuah perusahaan yang fokusnya international growth, maka yang saya tonjolkan adalah beberapa karya saya yang mendukung dampak luar biasa dalam meluncurkan produk di pasar-pasar internasional. Jika saya melamar ke agency di mana kreativitas menjadi yang utama, maka saya tonjolkan lebih banyak desain visual, prototyping dan ideation.
  • Proses penting, tapi hasil juga penting. Bagaimana kamu mengukur sukses dari desain kamu? Apakah ada data yang bisa kamu tanya pada Product Manager, atau tim Engineering, tentang conversion, jumlah keuntungan, atau jumlah active user yang meningkat? Selipkan beberapa data angka atau hasil kesuksesan (atau bahkan kegagalan, yang penting kamu belajar).
  • Format apakah yang harus kita kirim? Menurut saya, untuk studi kasus, saya lebih suka mengirim PDF atau presentasi (Google Slides, Keynote) karena bisa bercerita lebih banyak dan lebih siap untuk dipresentasikan daripada membuka situs web portfolio. Bagaimana pun, saya sarankan dengan sangat untuk setiap desainer UX agar memiliki situs web portfolio, yang sifatnya lebih umum dan bertindak sebagai teaser, seperti halnya film: kita menonton trailer, lalu tertarik menikmati film (studi kasus-nya). Saran saya, buatlah 3–5 presentasi studi kasus yang siap-pakai ketika wawancara, pilihlah 1–2 yang relevan dengan perusahaan yang kita tuju. Kalau perlu, ubah-ubah sedikit untuk membuat komunikasinya lebih lancar sesuai industri, produk atau kultur dari perusahaan yang kita tuju.

Percaya-lah, rata-rata portfolio review itu cuma 45 menit, 15 menit sisanya adalah tanya-jawab. Waktu 45 menit ini wajib kita pergunakan semaksimal mungkin untuk meyakinkan hiring manager dan timnya. Anggap saja dari 45 menit ini, 15 menit basa-basi. Jadi, sisanya tinggal 30 menit. Sepertiya agak sulit ya mempresentasikan 2 atau lebih studi kasus.

4. Siapkan CV-mu

Sounds obvious, right? Masalahnya, masih banyak CV yang mungkin belum maksimal. Saya tidak akan menguliahi soal CV yang bagus seperti apa, atau sepanjang apa. Tapi coba pikirkan beberapa hal berikut:

  • Hiring manager hanya punya waktu 1–5 detik untuk melihat CV. Artinya, di halaman pertama, kamu harus bisa menjual dirimu seefektif mungkin. Apakah perlu ada tempat dan tanggal lahir, atau di mana kamu bersekolah ketika SD dulu?
  • Banyak perusahaan teknologi/desain/startup sekarang memiliki koneksi ke luar negeri atau stakeholder dari luar negeri. Alangkah baiknya kalau bahasa yang digunakan Bahasa Inggris, sehingga CV-mu bisa dibaca sebanyak mungkin khalayak di dalam perusahaan itu.
  • Kemampuan apa yang dicari perusahaan? Apakah itu kepemimpinan, apakah itu desain visual, apakah itu end-to-end? Ya, kamu harus bisa menyesuaikan CV sesuai perusahaan itu. CV adalah sebuah alat pemasaran, yaitu memasarkan dirimu sendiri.
  • Apakah perusahaan yang kamu tuju bakal senang kalau ada typo atau kesalahan penggunaan bahasa?

5. Siapkan diri untuk wawancara dan presentasi

  • Kenali pewawancaramu sebelum hari wawancara. Coba stalking media sosialnya, profil Linkedin-nya, artikel tentangnya, situs webnya, portfolionya. Dengan begini, kamu tahu ekspektasi beliau seperti apa. Biasanya, hiring manager memilih kandidat yang lebih kurang punya nilai-nilai dan ekspektasi yang sama. Saya pernah diwawancara seseorang yang rajin menjadi pembicara. Sebelum wawancara, saya tonton dulu sesi beliau, dan mencoba ritme berbicara serta membahas sisi yang diminatinya. Karena beliau berlatarbelakang content designer, otomatis saya harus bercerita lebih banyak dan panjang. It worked well.
  • Perkenalkan dirimu dan batasi dalam 1–3 menit. Kalau perlu, tulis. Di sinilah, poin pertama beraksi: kenali dirimu.
  • Selalu siap membuka portfolio kapan saja di setiap tahapan wawancara.
  • Berceritalah semaksimal mungkin, tapi jangan ngalor-ngidul. I learned it the hard way, you can lose that job if you talk too much.
  • Jika sulit untuk berbicara impromptu, tulis dulu sebelum sesi wawancara. Garis besar-nya saja, pengalaman saya membantu sekali.
  • Cerita tentang tim. Perusahaan biasanya ingin tahu lebih lanjut bagaimana kamu bekerja bersama tim. Masalahnya apa, tantangannya apa.
  • Untuk mengurangi ketegangan, bisa selipkan humor ringan. Tapi, tetap menjaga sensitivitas.
  • Untuk leadership role: pastikan kamu bercerita tentang kontribusi kepemimpinanmu dalam proyek tertentu, misalnya bagaimana membuat timmu tetap produktif, bagaimana berkoordinasi dengan lead lain, bagaimana menyelesaikan konflik, dan lain sebagainya.

6. Bonus

Di beberapa perusahaan, ada tahapan-tahapan tambahan seperti di bawah ini. Saya sertakan tipsnya juga ya.

  • Take-Home Design Exercise. Biasanya ini “dibawa pulang”, dalam arti dikerjakan selama beberapa hari, lalu dipresentasikan. Saya pribadi tidak pernah setuju memberikan ini jika saya dalam posisi hiring, karena mengambil waktu seseorang tanpa dibayar sepantasnya itu kurang etis. Tapi tak apa, tiap perusahaan berbeda-beda.
  • On-site Design Exercise a.k.a The Whiteboarding Session. Biasanya ini melatih cara berpikir dan memecahkan masalah di tempat. Satu masalah yang paling umum adalah “Design a Clock Challenge”. Pada intinya, ada masalah impromptu pada hari itu yang harus kita pecahkan dengan design thinking. Saya pernah diberikan tantangan merancang jam weker, pernah juga diberikan tantangan bagaimana mengoptimalisasi proses hat sorting di Hogwarts. Lucu, tapi tetap menantang. Bedanya dengan take-home exercise, tugas ini melatih kita untuk berpikir dan bertindak cepat tapi tetap terstruktur. Hasilnya bukan desain visual yang rapi atau prototipe yang keren, tapi lebih ke proses berpikir.

Saran saya, dalam proses pengerjaannya, ikuti proses design thinking pada umumnya. Jangan langsung ke solusi atau visual. Mulai dari memahami problema dan penggunanya. Gali terus masalahnya dan bertanyalah.

  • Apa masalah yang kita hadapi? Pain points?
  • Tujuannya apa?
  • Asumsi dan hipotesanya apa?
  • Penggunanya siapa? Umur berapa? Demografi? Archetype?
  • Keterbatasan/lingkup-nya apa?
  • Timeline seperti apa?

Jangan lupa, khususnya ketika whiteboarding challenge, kita harus think aloud, dalam arti harus tetap berbicara sambil menorehkan pemikiran dan desain yang kita ingin buat.

Bagaimana? Semoga berguna ya. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, bisa kirim email ke hi at sigit dot co. Let’s talk!

Written by

Reflections on digital product design, travel, food and the in-betweens. Finding my compass.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store